Pentingnya
Pendidikan Seks pada Remaja dalam Keluarga
Latar
Belakang
Kehamilan
pada anak remaja (15-19 tahun) merupakan suatu permasalahan pada
masyarakat yang sampai sekarang belum dapat teratasi. Fenomena ini
merupakan salah satu tantangan yang harus dihadapi oleh masyarakat di
zaman era globalisasi. Setiap tahunnya tercatat 16 juta remaja
melahirkan di negara berkembang, termasuk di Indonesia.
Angka kehamilan remaja di negara berkembang menurun. Namun setiap
tahun lebih dari 7 juta gadis di bawah usia 18 tahun melahirkan
(World Health Organization [WHO],2012).
Di
Indonesia, hingga
sekarang masih banyak keluarga yang menganggap pendidikan mengenai
sex adalah hal yang tabu. Seharusnya pendidikan mengenai sex harus di
ajarkan kepada anak sejak mereka mulai menginjak masa pubertas.
Peranan orangtua mendampingi anak pada usia remaja sangat dibutuhkan
untuk membimbing dan mengawasi perilaku anak yang berada pada masa
dimana rasa ingin tahu sangat besar.
Pubertas
Menurut
Masland dan Estridge (2004) pubertas adalah masa perkembangan fisik
yang cepat ketika reproduksi seksual pertama kali terjadi. Dengan
kata lain, ini merupakan pertama kali seorang laki-laki secara fisik
mampu menghamili seorang perempuan, dan seorang perempuan secara
fisik sanggup mengandung dan melahirkan bayi. Kadang-kadang orang
menggunakan istilah 'pubertas' dan 'remaja' untuk maksud yang sama.
Padahal, lebih tepat digunakan istilah 'pubertas' ketika membicarakan
tentang beberapa perubahan fisik yang terjadi selama masa pra-remaja
dan masa remaja.
Pendidikan
Seks
Menurut
Sarlito (1994) pendidikan seksual adalah informasi mengenai persoalan
seksualitas manusia yang jelas dan benar, yang meliputi proses
terjadinya pembuahan, kehamilan sampai kelahiran, tingkah laku
seksual, hubungan seksual, dan aspek-aspek kesehatan, kejiwaan dan
kemasyarakatan. Penyampaian materi pendidikan seksual seharusnya
diberikan sejak dini ketika anak sudah mulai bertanya tentang
perbedaan kelamin antara dirinya dan orang lain, berkesinambungan dan
bertahap, disesuaikan dengan kebutuhan dan umur anak serta daya
tangkap anak (Gunarsa, 1991).
Tujuan
Pendidikan Seks Dalam Keluarga
Menurut
Dianawati (2003), terdapat beberapa tujuan pendidikan seks dalam
keluargam yaitu (a) memberikan pengertian yang memadai mengenai
perubahan fisik, mental dan proses kematangan emosional yang
berkaitan dengan masalah seksual pada anak, (b) mengurangi ketakutan
dan kecemasan sehubungan dengan perkembangan dan penyesuaian seksual
dalam bentuk tanggung jawab, (c) membentuk sikap dan memberikan
pengertian terhadap seks dalam semua manifestasi yang bervariasi, (d)
memberikan pengertian bahwa hubungan antara manusia dapat membawa
kepuasaan pada kedua individu dan kehidupan keluarga, (e) memberikan
pengertian mengenai kebutuhan nilai moral yang esensial untuk
memberikan dasar yang rasional dalam membuat keputusan berhubungan
dengan perilaku seksual, (f) memberikan pengetahuan tentang kesalahan
dan penyimpangan seksual agar anak dapat menjaga diri dan melawan
eksploitasi yang dapat mengganggu kesehatan fisik dan mentalnya, (g)
untuk mengurangi prostitusi dan ketakutan terhadap seksual yang tidak
rasional serta eksplorasi seks yang berlebihan, (h) memberikan
pengertian dan kondisi yang dapat membuat anak melakukan aktivitas
seksual secara efektif dan kreatif dalam berbagai peran.
Pendidikan
seksual yang baik mempunyai tujuan membina keluarga dan menjadi orang
tua yang bertanggung jawab (Mohamad, 1991). Pendidikan seksual tidak
bertujuan untuk menimbulkan rasa ingin tahu dan ingin mencoba
hubungan seksual antara remaja, tetapi ingin menyiapkan agar remaja
tahu tentang seksualitas dan akibat-akibatnya bila dilakukan tana
mematuhi aturan hukum, agama dan adat istiadat serta kesiapan mental
dan material seseorang. Selain itu pendidikan seksual juga bertujuan
untuk memberikan pengetahuan dan mendidik anak agar berperilaku yang
baik dalam hal seksual, sesuai dengan norma agama, sosial dan
kesusilaan (Husodo, 1987).
Manfaat
Pendidikan Seks
Menurut
Widyastuti, Rahmawati dan Purnamaningrum (2009) pada umumnya orang
menganggap bahwa pendidikan seks hanya berisi tentang pemberian
informasi alat kelamin dan berbagai macam posisi dalam hubungan
kelamin. Perlu diluruskan kembali pengertian pendidikan seks,
pendidikan seks berusaha menempatkan seks pada perspektif yang tepat
dan mengubah anggapan negatif tentang seks. Pendidikan seks dapat
memberitahu remaja bahwa seks adalah sesuatu yang alamiah dan wajar
terjadi pada setiap orang, selain itu remaja juga dapat diberitahu
mengenai berbagai perilaku seksual berisiko sehingga mereka dapat
menghindarinya.
Dampak
Perilaku Seksual Remaja
Pengaruh
terhadap psikologis. Setelah
kehamilan terjadi, pihak perempuan merupakan korban utama dalam
masalah ini. Kodrat untuk hamil dan meahirkan menempatkan remaja
perempuan dalam posisi terpojok yang sangat dilematis. Dalam
pandangan masyarakat, remaja putri yang hamil merupakan aib keluarga.
Penghakiman sosial ini tidak jarang membuat remaja putri diliputi
perasaan bingung, cemas, malu, dan bersalah setelah mengetahui
kehamilannya (Notoatmodjo, 2007).
Simpulan
Pendidikan
seksual pada remaja merupakan hal yang penting, terutama pembekalan
dan bimbingan dari keluarga. Pendidikan seksual yang ditanamkan sejak
remaja akan menjadikan para remaja lebih memiliki moral dan
pengetahuan yang cukup mengenai perilaku seksual dalam kehidupan
bermasyarakat. Pembekalan yang cukup akan menjadikan mereka sebagai
remaja yang tidak akan mencoba hal-hal yang memang tidak seharusnya
dilakukan. Hal ini yang kemudian akan mengurangi tingkat kehamilan
pada remaja.
Daftar
Pustaka
Bab
II: Informasi tentang pendidikan seks dalam keluarga. (2003). Diunduh
dari
http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/571/jbptunikompp-gdl-immagusfai-28536-10-unikom_i-i.pdf
Fergusson,
D.M., & Woodward, L.J. (2000). Teenage pregnancy and female
educational underachievement: A prospective study of a new zealand
birth cohort. Journal of Marriage and The Family, 62,
147-161.
Mu'tadin,
Z. (2010). Pendidikan seksual pada remaja.
Diunduh dari www.belajarpsikologi.com/pendidikan-seksual-pada-remaja/
Notoatmodjo,
S. (2007). Kesehatan
masyarakat.
Jakarta: Rineka Cipta.
Sarwono,
S. (1989). Psikologi
remaja. Jakarta:
Rajawali.
Yuniarti,
D. (2007). Pengaruh
pendidikan seks terhadap sikap mengenai seks pranikah pada remaja.
Jakarta:
Universitas Gunadarma.




