Wednesday, November 12, 2014

Tugas Akhir Blok Penulisan Ilmiah

Pentingnya Pendidikan Seks pada Remaja dalam Keluarga

Latar Belakang
Kehamilan pada anak remaja (15-19 tahun) merupakan suatu permasalahan pada masyarakat yang sampai sekarang belum dapat teratasi. Fenomena ini merupakan salah satu tantangan yang harus dihadapi oleh masyarakat di zaman era globalisasi. Setiap tahunnya tercatat 16 juta remaja melahirkan di negara berkembang, termasuk di Indonesia. Angka kehamilan remaja di negara berkembang menurun. Namun setiap tahun lebih dari 7 juta gadis di bawah usia 18 tahun melahirkan (World Health Organization [WHO],2012).
Di Indonesia, hingga sekarang masih banyak keluarga yang menganggap pendidikan mengenai sex adalah hal yang tabu. Seharusnya pendidikan mengenai sex harus di ajarkan kepada anak sejak mereka mulai menginjak masa pubertas. Peranan orangtua mendampingi anak pada usia remaja sangat dibutuhkan untuk membimbing dan mengawasi perilaku anak yang berada pada masa dimana rasa ingin tahu sangat besar.

Pubertas
Menurut Masland dan Estridge (2004) pubertas adalah masa perkembangan fisik yang cepat ketika reproduksi seksual pertama kali terjadi. Dengan kata lain, ini merupakan pertama kali seorang laki-laki secara fisik mampu menghamili seorang perempuan, dan seorang perempuan secara fisik sanggup mengandung dan melahirkan bayi. Kadang-kadang orang menggunakan istilah 'pubertas' dan 'remaja' untuk maksud yang sama. Padahal, lebih tepat digunakan istilah 'pubertas' ketika membicarakan tentang beberapa perubahan fisik yang terjadi selama masa pra-remaja dan masa remaja.

Pendidikan Seks
Menurut Sarlito (1994) pendidikan seksual adalah informasi mengenai persoalan seksualitas manusia yang jelas dan benar, yang meliputi proses terjadinya pembuahan, kehamilan sampai kelahiran, tingkah laku seksual, hubungan seksual, dan aspek-aspek kesehatan, kejiwaan dan kemasyarakatan. Penyampaian materi pendidikan seksual seharusnya diberikan sejak dini ketika anak sudah mulai bertanya tentang perbedaan kelamin antara dirinya dan orang lain, berkesinambungan dan bertahap, disesuaikan dengan kebutuhan dan umur anak serta daya tangkap anak (Gunarsa, 1991).

Tujuan Pendidikan Seks Dalam Keluarga
Menurut Dianawati (2003), terdapat beberapa tujuan pendidikan seks dalam keluargam yaitu (a) memberikan pengertian yang memadai mengenai perubahan fisik, mental dan proses kematangan emosional yang berkaitan dengan masalah seksual pada anak, (b) mengurangi ketakutan dan kecemasan sehubungan dengan perkembangan dan penyesuaian seksual dalam bentuk tanggung jawab, (c) membentuk sikap dan memberikan pengertian terhadap seks dalam semua manifestasi yang bervariasi, (d) memberikan pengertian bahwa hubungan antara manusia dapat membawa kepuasaan pada kedua individu dan kehidupan keluarga, (e) memberikan pengertian mengenai kebutuhan nilai moral yang esensial untuk memberikan dasar yang rasional dalam membuat keputusan berhubungan dengan perilaku seksual, (f) memberikan pengetahuan tentang kesalahan dan penyimpangan seksual agar anak dapat menjaga diri dan melawan eksploitasi yang dapat mengganggu kesehatan fisik dan mentalnya, (g) untuk mengurangi prostitusi dan ketakutan terhadap seksual yang tidak rasional serta eksplorasi seks yang berlebihan, (h) memberikan pengertian dan kondisi yang dapat membuat anak melakukan aktivitas seksual secara efektif dan kreatif dalam berbagai peran.
Pendidikan seksual yang baik mempunyai tujuan membina keluarga dan menjadi orang tua yang bertanggung jawab (Mohamad, 1991). Pendidikan seksual tidak bertujuan untuk menimbulkan rasa ingin tahu dan ingin mencoba hubungan seksual antara remaja, tetapi ingin menyiapkan agar remaja tahu tentang seksualitas dan akibat-akibatnya bila dilakukan tana mematuhi aturan hukum, agama dan adat istiadat serta kesiapan mental dan material seseorang. Selain itu pendidikan seksual juga bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan mendidik anak agar berperilaku yang baik dalam hal seksual, sesuai dengan norma agama, sosial dan kesusilaan (Husodo, 1987).

Manfaat Pendidikan Seks
Menurut Widyastuti, Rahmawati dan Purnamaningrum (2009) pada umumnya orang menganggap bahwa pendidikan seks hanya berisi tentang pemberian informasi alat kelamin dan berbagai macam posisi dalam hubungan kelamin. Perlu diluruskan kembali pengertian pendidikan seks, pendidikan seks berusaha menempatkan seks pada perspektif yang tepat dan mengubah anggapan negatif tentang seks. Pendidikan seks dapat memberitahu remaja bahwa seks adalah sesuatu yang alamiah dan wajar terjadi pada setiap orang, selain itu remaja juga dapat diberitahu mengenai berbagai perilaku seksual berisiko sehingga mereka dapat menghindarinya.
Dampak Perilaku Seksual Remaja
Pengaruh terhadap psikologis. Setelah kehamilan terjadi, pihak perempuan merupakan korban utama dalam masalah ini. Kodrat untuk hamil dan meahirkan menempatkan remaja perempuan dalam posisi terpojok yang sangat dilematis. Dalam pandangan masyarakat, remaja putri yang hamil merupakan aib keluarga. Penghakiman sosial ini tidak jarang membuat remaja putri diliputi perasaan bingung, cemas, malu, dan bersalah setelah mengetahui kehamilannya (Notoatmodjo, 2007).
Simpulan
Pendidikan seksual pada remaja merupakan hal yang penting, terutama pembekalan dan bimbingan dari keluarga. Pendidikan seksual yang ditanamkan sejak remaja akan menjadikan para remaja lebih memiliki moral dan pengetahuan yang cukup mengenai perilaku seksual dalam kehidupan bermasyarakat. Pembekalan yang cukup akan menjadikan mereka sebagai remaja yang tidak akan mencoba hal-hal yang memang tidak seharusnya dilakukan. Hal ini yang kemudian akan mengurangi tingkat kehamilan pada remaja.


Daftar Pustaka
Bab II: Informasi tentang pendidikan seks dalam keluarga. (2003). Diunduh dari http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/571/jbptunikompp-gdl-immagusfai-28536-10-unikom_i-i.pdf
Fergusson, D.M., & Woodward, L.J. (2000). Teenage pregnancy and female educational underachievement: A prospective study of a new zealand birth cohort. Journal of Marriage and The Family, 62, 147-161.
Mu'tadin, Z. (2010). Pendidikan seksual pada remaja. Diunduh dari www.belajarpsikologi.com/pendidikan-seksual-pada-remaja/
Notoatmodjo, S. (2007). Kesehatan masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta.
Sarwono, S. (1989). Psikologi remaja. Jakarta: Rajawali.
Yuniarti, D. (2007). Pengaruh pendidikan seks terhadap sikap mengenai seks pranikah pada remaja. Jakarta: Universitas Gunadarma.



No comments:

Post a Comment