Wednesday, November 12, 2014

Tugas Akhir Blok Penulisan Ilmiah

Pentingnya Pendidikan Seks pada Remaja dalam Keluarga

Latar Belakang
Kehamilan pada anak remaja (15-19 tahun) merupakan suatu permasalahan pada masyarakat yang sampai sekarang belum dapat teratasi. Fenomena ini merupakan salah satu tantangan yang harus dihadapi oleh masyarakat di zaman era globalisasi. Setiap tahunnya tercatat 16 juta remaja melahirkan di negara berkembang, termasuk di Indonesia. Angka kehamilan remaja di negara berkembang menurun. Namun setiap tahun lebih dari 7 juta gadis di bawah usia 18 tahun melahirkan (World Health Organization [WHO],2012).
Di Indonesia, hingga sekarang masih banyak keluarga yang menganggap pendidikan mengenai sex adalah hal yang tabu. Seharusnya pendidikan mengenai sex harus di ajarkan kepada anak sejak mereka mulai menginjak masa pubertas. Peranan orangtua mendampingi anak pada usia remaja sangat dibutuhkan untuk membimbing dan mengawasi perilaku anak yang berada pada masa dimana rasa ingin tahu sangat besar.

Pubertas
Menurut Masland dan Estridge (2004) pubertas adalah masa perkembangan fisik yang cepat ketika reproduksi seksual pertama kali terjadi. Dengan kata lain, ini merupakan pertama kali seorang laki-laki secara fisik mampu menghamili seorang perempuan, dan seorang perempuan secara fisik sanggup mengandung dan melahirkan bayi. Kadang-kadang orang menggunakan istilah 'pubertas' dan 'remaja' untuk maksud yang sama. Padahal, lebih tepat digunakan istilah 'pubertas' ketika membicarakan tentang beberapa perubahan fisik yang terjadi selama masa pra-remaja dan masa remaja.

Pendidikan Seks
Menurut Sarlito (1994) pendidikan seksual adalah informasi mengenai persoalan seksualitas manusia yang jelas dan benar, yang meliputi proses terjadinya pembuahan, kehamilan sampai kelahiran, tingkah laku seksual, hubungan seksual, dan aspek-aspek kesehatan, kejiwaan dan kemasyarakatan. Penyampaian materi pendidikan seksual seharusnya diberikan sejak dini ketika anak sudah mulai bertanya tentang perbedaan kelamin antara dirinya dan orang lain, berkesinambungan dan bertahap, disesuaikan dengan kebutuhan dan umur anak serta daya tangkap anak (Gunarsa, 1991).

Tujuan Pendidikan Seks Dalam Keluarga
Menurut Dianawati (2003), terdapat beberapa tujuan pendidikan seks dalam keluargam yaitu (a) memberikan pengertian yang memadai mengenai perubahan fisik, mental dan proses kematangan emosional yang berkaitan dengan masalah seksual pada anak, (b) mengurangi ketakutan dan kecemasan sehubungan dengan perkembangan dan penyesuaian seksual dalam bentuk tanggung jawab, (c) membentuk sikap dan memberikan pengertian terhadap seks dalam semua manifestasi yang bervariasi, (d) memberikan pengertian bahwa hubungan antara manusia dapat membawa kepuasaan pada kedua individu dan kehidupan keluarga, (e) memberikan pengertian mengenai kebutuhan nilai moral yang esensial untuk memberikan dasar yang rasional dalam membuat keputusan berhubungan dengan perilaku seksual, (f) memberikan pengetahuan tentang kesalahan dan penyimpangan seksual agar anak dapat menjaga diri dan melawan eksploitasi yang dapat mengganggu kesehatan fisik dan mentalnya, (g) untuk mengurangi prostitusi dan ketakutan terhadap seksual yang tidak rasional serta eksplorasi seks yang berlebihan, (h) memberikan pengertian dan kondisi yang dapat membuat anak melakukan aktivitas seksual secara efektif dan kreatif dalam berbagai peran.
Pendidikan seksual yang baik mempunyai tujuan membina keluarga dan menjadi orang tua yang bertanggung jawab (Mohamad, 1991). Pendidikan seksual tidak bertujuan untuk menimbulkan rasa ingin tahu dan ingin mencoba hubungan seksual antara remaja, tetapi ingin menyiapkan agar remaja tahu tentang seksualitas dan akibat-akibatnya bila dilakukan tana mematuhi aturan hukum, agama dan adat istiadat serta kesiapan mental dan material seseorang. Selain itu pendidikan seksual juga bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan mendidik anak agar berperilaku yang baik dalam hal seksual, sesuai dengan norma agama, sosial dan kesusilaan (Husodo, 1987).

Manfaat Pendidikan Seks
Menurut Widyastuti, Rahmawati dan Purnamaningrum (2009) pada umumnya orang menganggap bahwa pendidikan seks hanya berisi tentang pemberian informasi alat kelamin dan berbagai macam posisi dalam hubungan kelamin. Perlu diluruskan kembali pengertian pendidikan seks, pendidikan seks berusaha menempatkan seks pada perspektif yang tepat dan mengubah anggapan negatif tentang seks. Pendidikan seks dapat memberitahu remaja bahwa seks adalah sesuatu yang alamiah dan wajar terjadi pada setiap orang, selain itu remaja juga dapat diberitahu mengenai berbagai perilaku seksual berisiko sehingga mereka dapat menghindarinya.
Dampak Perilaku Seksual Remaja
Pengaruh terhadap psikologis. Setelah kehamilan terjadi, pihak perempuan merupakan korban utama dalam masalah ini. Kodrat untuk hamil dan meahirkan menempatkan remaja perempuan dalam posisi terpojok yang sangat dilematis. Dalam pandangan masyarakat, remaja putri yang hamil merupakan aib keluarga. Penghakiman sosial ini tidak jarang membuat remaja putri diliputi perasaan bingung, cemas, malu, dan bersalah setelah mengetahui kehamilannya (Notoatmodjo, 2007).
Simpulan
Pendidikan seksual pada remaja merupakan hal yang penting, terutama pembekalan dan bimbingan dari keluarga. Pendidikan seksual yang ditanamkan sejak remaja akan menjadikan para remaja lebih memiliki moral dan pengetahuan yang cukup mengenai perilaku seksual dalam kehidupan bermasyarakat. Pembekalan yang cukup akan menjadikan mereka sebagai remaja yang tidak akan mencoba hal-hal yang memang tidak seharusnya dilakukan. Hal ini yang kemudian akan mengurangi tingkat kehamilan pada remaja.


Daftar Pustaka
Bab II: Informasi tentang pendidikan seks dalam keluarga. (2003). Diunduh dari http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/571/jbptunikompp-gdl-immagusfai-28536-10-unikom_i-i.pdf
Fergusson, D.M., & Woodward, L.J. (2000). Teenage pregnancy and female educational underachievement: A prospective study of a new zealand birth cohort. Journal of Marriage and The Family, 62, 147-161.
Mu'tadin, Z. (2010). Pendidikan seksual pada remaja. Diunduh dari www.belajarpsikologi.com/pendidikan-seksual-pada-remaja/
Notoatmodjo, S. (2007). Kesehatan masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta.
Sarwono, S. (1989). Psikologi remaja. Jakarta: Rajawali.
Yuniarti, D. (2007). Pengaruh pendidikan seks terhadap sikap mengenai seks pranikah pada remaja. Jakarta: Universitas Gunadarma.



Thursday, November 6, 2014

Pemahaman Bahasa Tubuh

Komunikasi Non Verbal dalam Bentuk Bahasa Tubuh

Pendahuluan
Hubungan antara bahasa tubuh dengan kehidupan sosial. Bahasa tubuh merupakan bahasa yang sudah sejak lama digunakan, namun beberapa abad yang lalu hanya ada sedikit pria dan wanita yang memahami kekuatan bahasa-bahasa yang non verbal. Banyak orang merasa tidak mengirimkan pesan-pesan non verbal karena mereka tidak banyak memahami tentang bahasa tubuh. Perbedaan di antara pesan verbal & non verbal akan menyebabkan pasangan bicara bingung dan membuat interaksi terganggu. Bahasa tubuh membantu pembicara menjadi lebih percaya diri, terampil dalam menyampaikan pesan secara jujur, dan dapat menghindari salah paham ketika sedang berbicara dengan orang lain dalam situasi apapun (Buckley, 2008). Bahasa tubuh dapat berlawanan dengan apa yang diucapkan. Misalnya ketika harus bersikap sopan dengan seseorang yang tidak disukai, mungkin secara verbal seseorang dapat menggunakan kata-kata yang benar, namun tubuh memberontak dengan berbagai cara. Misalnya menjabat tangan sebentar saja, atau mencoba menghindar dari tatapan matanya. Dalam hal ini bahasa tubuh berlawanan dengan bahasa ucapan sehingga terbentuk dua tanda yang berbeda.

Tubuh dan Bahasa Tubuh
Menurut Buckley (2008), terdapat beberapa bahasa tubuh yang ditunjukkan dari beberapa anggota tubuh, yaitu:
Kepala. Bagian tubuh ini digunakan sebagai tanda individu menegaskan atau menolak informasi yang telah diberikan, menunjukkan minat atau ketertarikan pada apa yang sedang dibicarakan.
Wajah. Bagian tubuh ini adalah bagian yang menunjukkan emosi seseorang. Salah satu contonhnya adalah tatapan mata saat sedang berkomunikasi.
Pundak. Bagian tubuh ini sering digunakan untuk menunjukkan ketidaktertarikan seseorang pada pembicaraan.
Lengan. Bagian tubuh ini digunakan untuk mengekspresikan emosi, dan digunakan untuk membuat diri terlihat lenih berkuasa.
Tangan. Bagian tubuh yang sering digunakan untuk mengekspresikan emosi, untuk menunjukkan persahabatan serta ketidaksenangan.
Bentuk-Bentuk Bahasa Tubuh
Menurut Beliak dan Baker (1981), terdapat 3 bentuk dan tipe umum dari bahasa tubuh (1) kontak mata, (2) ekspresi wajah, (3) gerakan anggota tubuh.
Kontak mata. Meliputi suatu keadaan penglihatan secara langsung antar orang (selalu pada wilayah wajah) disaat sedang berbicara. Kontak mata sangat menentukan kebutuhan psikologis serta efek dari komunikasi antar pribadi. Melalui kontak mata, individu dapat menangkap berbagai pesan yang dialami dari lawan bicara, misalnya pandangan sayu, cemas, takut ataupun terharu. Kontak mata sebagai salah satu bentuk simbol komunikasi non verbal dapat mempengaruhi perilaku dan kepercayaan individu dalam berkomunikasi.
Ekspresi wajah. Meliputi pengaruh raut wajah yang ditunjukkan pada saat berkomunikasi secara emosional atau bereaksi terhadap suatu pesan. Melalui wajah, dapat tercermin bagaimana perasaan dan pikiran dari seorang individu.
Gerakan anggota tubuh. Gerakan atau yang sering kita dengar dengan istilah gestures merupakan bentuk perilaku non verbal pada gerakan tangan, bahu, jari-jari. Secara sadar maupun tidak, kita sering menggunakan gerakan anggota tubuh ketika ingin menekankan suatu pesan. Setiap individu memiliki cara-cara yang bervariasi dalam menggerakkan anggota tubuh dan menggunakannya sebagai alat bantu ketika mereka sedang berbicara.
Kunci Menguasai Kemampuan dalam Bahasa Tubuh
Motivasi. Individu harus memiliki suatu keinginan untuk berkembang dalam kemampuan berkomunikasi non verbal. Individu harus memiliki target, feedback mengenai kesuksesan dan kegagalan, dan latihan.
Mengembangkan kemampuan menganalisa. Kemampuan membaca bahasa tubuh individu lain merupakan salah satu komponen terpenting dalam menguasai bahasa tubuh. Individu harus lebih jeli dan memperhatikan feedback yang diterima.
Penyampaian yang tepat. Seorang individu harus mampu menyampaikan pesan non verbal melalui ekspresi wajah, postur tubuh, gestures, dan nada bicara. Kemampuan ini berhubungan erat dengan kemampuan menganalisa, ketika individu dapat menyampaikan pesan secara efektif maka hal itu akan membantu si individu memahami dan membaca bahasa tubuh individu lain.
Kesimpulan
Dalam berkomunikasi, seorang individu tidak hanya akan berkomunikasi secara verbal tetapi juga secara non verbal. Komunikasi non verbal ialah penyampaian pesan tanpa menggunakan kata-kata yang tercermin pada bahasa tubuh. Bahasa tubuh digunakan pada saat kata-kata tidak dapat lagi menggambarkan perasaan seorang individu. Setiap individu harus memiliki kemampuan komunikasi non verbal yang baik, apabila tidak dapat menimbulkan konflik yang tidak diinginkan. Kesalahan dalam menggunakan bahasa tubuh dapat berakibat fatal karena dapat mengganggu kelangsungan komunikasi antar individu dan menimbulkan kebingungan dalam berinteraksi.

Daftar Pustaka
Buckley, S.G. (2008). Bahasa tubuh: Panduan lengkap memahami komunikasi non verbal untuk meraih kesuksesan karir, asmara, kehidupan sosial, dan pribadi. Jakarta: Cerdas Pustaka.
Costanzo, M. (1992). Training students to decode verbal and nonverbal cues: Effects on confidence and performance. Journal of Educational Psychology, 84, 308-313.
Setianti, Y. (2007). Bahasa tubuh sebagai komunikasi non verbal. (Skripsi tidak diterbitkan). Universitas Padjajaran, Bandung.

Monday, October 6, 2014

Pengetahuan dan Inteligensi Manusia

Pengetahuan adalah perseptif ketika muncul secara spontan,untuk kita menyesuaikan diri kita secara langsung dengan situasi yang disajikan dan menyatakan diri nya lebih melalui gerakan tangan,tingkah laku,gerak-gerakan,sifat-sifat,tindakan,dan jerit teriakan daripada dengan perkataan yang dipikirkan keterangan yang jelas.
Pengetahuan reflektif adalah ketika dia membuat obyek kodrat dari manusia realitas apapun juga dan mengungkapkan nya dalam bentuk ide,konsep,definisi dan putusan maupun bentuk lambang,mitos atau karya seni.
Pengetahuan diskurtif adalah ketika dia memperhatikan suatu obyek dar benda kemudian suatu aspek yang lain ketika dia pergi dan datang dari keseluruhan ke bagian-bagian dan dari bagian-bagian.
Pengetahuan adalah induktif ketika ia menarik yang universal dari yang individual,sedangkan deduktif ketika ia menarik dari yang umum ke universal

ARTI PENGETAHUAN

Pengetahuan adalah :

  • Suatu kegiatan yang mempengaruhi subjek dalam dirinya.
  • Sesuatu kentetuan yang memperkaya eksistensi subjek.
  • Suatu kesempurnaan yang mengembangkan eksistensi.

PENGETAHUAN DARI SEGI SUBJEK

Yang menyebabkan sesuatu menjadi diketahui adalah bentuk esidosnya atau morphe(Yunani),species(Ltn) yang berarti aspek dari satu benda dan apa yang dibentuk oleh benda dan apa yang ada pada benda itu memiliki kekhasan. Bentuk dari satu benda itu menunjukan kepada kita orientasi,tujuan dan arti benda itu. Benda suatu benda adalah bukan hanya apa yang memberi kodrat,tetapi juga memberikan kegiatan dan tujuan tertentu kepadanya.

BUKAN INTELEGENSI MANUSIA


Pengetahuan manusia adalah sekaligus indrawi dan intelektif.Pengetahuan indrawi dan pengetahuan intelektif bersifat sinergis,berkat indrawi pengetahuan manusia menyerupai pengetahuan hewan dan berkat keduanya(indrawi dan intelektif)
Sifat khas dari pancaindra adalah mencapai langsung kualitas ini atau itu dari obyek konkret yang sedang ditunjukan kepadanya,sedangkan sifat dari intelegensi menangkap kodrat obyek dan tetap menyimpannya dari dalam dirinya sehingga dapat dipertimbangkan baik dirinya obyek masih ada atau tidak.

SIFAT DAN OBJEK INTELEGENSI MANUSIA

Intelegensi manusia dewasa terletak pada obyeknya, orang dapat melihathak-hak yang dalam pada dirinya sendiri. Intelligere berasal kata “intus” berarti dalam. Legere berarti membaca dan menangkap. Intellegere arti nya “membaca” dimensi dalam segala hal dan menangkap artinya yang dalam.

PRINSIP PENEGASAN,PENILAIAN, SIMPULAN DAN PENALARAN

  • Prinsip Identitas
  • Prinsip alasan yang mencukupi
  • Prinsip kausilitas efisien
  • Prinsip-prinsip bersifat efiden,karena tidak dapat disangka tanpa dipergunakan sebagai alasan sangkalannya.



Sunday, October 5, 2014

My Eighth Class about Philosophy (II)

KEBEBASAN
-Jiwa dan Kebebasan
  • Eksistensi jiwa dalam tubuh memampukan manusia untuk menghadirkan diri secara total di dunia dan memungkinkan manusia menentukan perbuatannya
  • Dalam fungsi menentukan perbuatan, jiwa berhubungan dengan kehendak bebas
  • Karena jiwalah manusia menjadi mahluk bebas
  • Kebebasan itu mendasar bagi manusia dan merupakan penting humanism
Sejarah manusia merupakan sejarah perjuangan kebebasan” (Erich Fromm, The Fear of Freedom, 1960)

Artinya, kebebasan menjadi bagian tak terpisahkan dari eksistensi manusia.

-Pandangan Determinisme
  • Determinisme adalah aliran yang menolak kebebasan sebagai kenyataan hidup bagi manusia. Setiap peristiwa, termasuk tindakan dan keputusan manusia disebabkan oleh peristiwa-peristiwa lainnya.
  • Seluruh kegiatan manusia di dunia berjalan menurut keharusan yang bersifat deterministik ( Determinisme fisik-biologis,  psikologis,  sosial dan  teologis )
Kebebasan sebagai Eksistensi Manusia
Kelemahan determinisme:
  • Menyangkal sifat multidimensional dan paradoksal manusia (paradoks tidak meniadakan kebebasan juga keharusan, bukan? )
  • Menyangkal bahwa manusia selalu melakukan evaluasi dan penilaian terhadap tindakannya
  • Menafikan adanya tanggung jawab (tak relevan menuntut tanggung jawab atas kesalahan, bukan?)
Kebebasan sebagai bagian eksistensi manusia

  • Manusia hidup dalam “kemungkinan dapat” atau berhadapan dengan pilihan berbeda bobot
  • Adanya tanggung jawab (bagaimana kehidupan berjalan teratur tanpa adanya tanggung jawab?)
  • Makna perbuatan moral ada pada kebebasan  ( Pandangan Immanuel Kant tentang kebebasan dan kehidupan moral )
Apa Arti Kebebasan ??

  • Pengertian umum / Kebebasan negative / tidak ada hambatan (tidak ada paksaan, tidak ada hambatan, tidak ada halangan, tidak ada aturan). Tapi ini bukan kebebasan eksistensial
  • Pengertian khusus / kebebasan eksistensial : Penyempurnaan diri, kesanggupan memilih dan memutuskan, kemampuan mengungkapkan berbagai dimensi kemanusiaan (kebebasan / hak-hak dasar seperti ditegaskan Franz Magnis-Suseno)
Jenis – Jenis Kebebasan
  • Kebebasan horizontal (berkaitan dengan kesenangan dan kesukaan, bersifat spontan, semata pertimbangan intelektual) dan kebebasan vertikal (pilihan moral, pertimbangan tujuan, tingkatan nilai)
  • Kebebasan eksistensial (kebebasan positif, lambang martabat manusia) dan kebebasan sosial (terkait dengan orang lain )
  • Nilai humanistik dalam kebebasan eksistensial: 
          1.Melibatkan pertimbangan
          2.Mengedepankan nilai kebaikan
          3.Menghidupkan otonomi
          4.Menyertakan tanggung jawab
 

Kebebasan Sosial

Kebebasan sosial dibatasi dalam hal fisik, psikis dan normatif
4 alasan adanya pembatasan kebebasan sosial:
  • Menyertakan pengertian
  • Memberi ruang bagi kebebasan eksistensial
  • Menjamin pelaksanaan keadilan bagi masyarakat
  • Terkait dengan hakikat manusia sebagai mahkhluk sosial

http://freedom40journey.files.wordpress.com/2013/01/balloons-beach-beauty-freedom-happiness-favim-com-268585-1.jpg


                                "The Freedom to be yourself is a gift only you can give yourself. But once you do, no one can take it away - Doe Zantamata"

Sumber :
Slide show dan penjelasan oleh Bapak Bonar Hutapea, M.Si. Psi

My Eighth Class about Philosophy (I)

MANUSIA DAN AFEKTIVITASNYA
 
-Kekayaan dan Kompleksitas Afektivitas Manusia

Yang membedakan manusia dengan tumbuhan adalah afektivitasnya. Afektivitaslah yang membuat manusia ‘berada’ di dunia, berpartisipasi dengan orang lain dan memdorong orang untuk mencintai, mengabdi, dan menjadi kreatif. Meninjau ciri khas kebenaran afektivitas yang disebut ‘suasana hati’. Orang yang bersuasana hati baik adalah orang yang memiliki kemampuan bekerja dengan baik.

-Yang Bukan Perbuatan Afektif

Cinta membuktikan diri dalam perbuatan. Cinta mendahului perbuatan – perbuatan. Seringkali afektivitas itu disamakan dengan kesanggupan merasa: Padahal kehidupan afektif bukan hanya menyangkut merasa saja, tetapi juga menyangkut hal yang spiritual.

-Yang Merupakan Perbuatan Afektif
 
Hidup afektif atau afektifitas adalah seluruh perbuatan afektif yang dilakukan subyek sehingga subyek ditarik oleh obyek atau sebaliknya. Perbuatan afektif sedikit mirip degan  ‘perbuatan mengenal’  karena dianggap perbuatan vital/imanen. Tapi perbuatan afektif beda dengan  ‘perbuatan mengenal’  karena perbuatan afektif itu lebih pasif, sedangkan pada ‘perbuatan mengenal’ subyek membuka diri pada obyek.

-Kondisi Afektivitas Manusia

Agar ada afektivitas, perlu suatu ikatan kesamaan antara subyek dan obyek perbuatan afektifnya. Kesenangan tidak harus dicurigai. Saya hidup dibawah ‘cara afektif ’ kesenangan, bila saya sungguh bersatu dalam perasaan dan pikiran dengan apa yang baik bagi saya. Kesenangan adalah perasaan yang dialami subyek bila dia dihinggapi oleh keadaan berada lebih baik.

Sumber:
Slide show dan penjelasan oleh Dr.Raja Oloan Tumanggor

Saturday, September 27, 2014

My Seventh Class about Philosophy

BADAN DAN JIWA 

Sebelum masuk ke materi yang dipelajari, mari kita simak dulu dialog yang telah kelompok Fantastic Four siapkan untuk kalian para pembaca :D

DIALOG JIWA DAN BADAN
Badan    :“ Hai jiwa kenapa kamu tampaknya murung?”

Jiwa      :”Aku murung karena badan merokok.”
Badan    :”Ohh maaf,  aku  tidak bisa menahan kebutuhanku untuk merokok.”
Jiwa :“Cobalah untuk berhenti, aku menjadi susah untuk bekerja maksimal, fungsiku menjadi terganggu.”
Badan    : “ Tapi tanpa rokok aku tidak bisa, zat –zat dari benda itu yang membuatku  ingin terus mengisapnya.”
Jiwa      : ”Tolongg hentikann… karena badan, jiwa bisa hancur, jiwa semakin sulit untuk  berkonsentrasi, berpikir dan tidak bebas.”
Badan    :” Baiklah karena hubungan kita dekat, Badan akan mengurangi jumlah rokok yang dihisap.”
Jiwa      : “Terima kasih Badan. Jiwa berharap Badan bisa berjuang melawan rokok itu.”
Badan    :” Iyaa Jiwa, Badan akan berjuang melawannya demi kebaikan Jiwa.”
Jiwa      :” Jiwa akan memperingatkan bila Badan melakukannya lagi. Badan pasti bisaaa….”
Badan    :”Hahaha… terimakasih Jiwa, kita harus terus saling memperingatkan dan memperhatikan yaa..”
Jiwa       :”Tentu saja, Badan. Sekarang, Jiwa dapat berfungsi dengan baik dan maksimal.”





Badan dan Jiwa adalah satu kesatuan yang membentuk pribadi manusia dan membentuk keutuhan dari pribadi manusia.

Dua aliran pandangan:

1.) Monisme
Aliran yang menolak bahwa badan dan jiwa merupakan dua unsur yang terpisah. Badan dan jiwa adalah satu substansi. Keduanya satu kesatuan yang membentuk pribadi manusia

Tiga bentuk aliran monisme:
  • Materialisme: Menetapkan materi sebagai dasar bagi segala hal yang ada (fisikalisme). Jiwa bersumber dari materi.
  • Teori Identitas: Menekankan hal berbeda dari materialisme, tapi mengikuti aktivitas mental manusia. Ini menjadi ciri khas manusia. Badan dan jiwa merupakan dua elemen yang sama.
  • Idealisme: Ada hal yang tidak dapat diterangkan semata mata berdasarkan materi, seperti pengalaman, nilai dan makna. Rene Descartes (Peletak dasar dari idealisme)

2.) Dualisme
Badan dan jiwa adalah dua hal yang berbeda dan terpisah. Perbedaannya dalam pengertian dan objek.

Empat cabang dualisme:

  • Interaksionisme: Fokus pada hun]bungan timbal balik antara badan dan jiwa
  • Okkasionalisme: Memasukkan dimensi ilahi dalam membicarakan hubungan badan dan jiwa.
  • Paralelisme: Sistem kejadian ragawi terdapat di alam, sedangkan sistem kejadian kejiwaan ada pada jiwa manusia.
  • Epifenomenalisme: Melihat hubungan jiwa dan badan dari fungsi syaraf. Satu-satunya unsur untuk menyelidiki proses kejiwaan adalah syaraf.

 

Badan Manusia: Elemen mendasar dalam membentuk pribadi manusia. Kumpulan berbagai entitas material yang membentuk makhluk. Membicarakan tubuh adalah membicarakan diri.
(Gabriel Marcel)






Jiwa manusia: Tanpa jiwa, badan manusia tidak memilik apa-apa. Jiwa harus dipahami sebagai kompleksitas kegiatan mental manusia.

Kesimpulan dari materi ini adalah, badan dan jiwa merupakan satu kesatuan yang membentuk eksistensi manusia. Oleh karena itu, untuk memperoleh badan yang sehat, mulailah dari dalam jiwa kita.

Sumber : Diambil dari slide powerpoint bahan kuliah oleh Dr. Raja Oloan Tumanggor 25 September 2014

Kebebasan: Bebas Memilih Jurusan

     Jadi, beberapa hari yang lalu penulis baru saja mempelajari tentang filsafat manusia dan membahas tentang kebebasan yang dimiliki setiap manusia. Setelah selesai penyampaian materi, dosen(Pak Bonar) meminta kita untuk menuliskan pandangan kita mengenai kebebasan. Nah, pada kesempatan ini penulis ingin membicarakan suatu hal mengenai kebebasan yang pastinya sangat ingin dimiliki oleh kita para mahasiswa yaitu kebebasan dalam memilih jurusan.

     Ketika kita lulus SMA, salah sat hal yang paling kita tunggu adalah masuk ke perguruan tinggi. Ketika kita memutuskan untuk masuk ke perguruan tinggi tentu saja kita berharap untuk dapat mempelajari suatu ilmu yang memang kita gemari dan ingin kita geluti. Namun, terkadang ada beberapa orang yang tidak dapat menentukan jurusan yang ingin ia geluti karena tidak mendapat izin dari orang tua.