Saturday, September 27, 2014

My Seventh Class about Philosophy

BADAN DAN JIWA 

Sebelum masuk ke materi yang dipelajari, mari kita simak dulu dialog yang telah kelompok Fantastic Four siapkan untuk kalian para pembaca :D

DIALOG JIWA DAN BADAN
Badan    :“ Hai jiwa kenapa kamu tampaknya murung?”

Jiwa      :”Aku murung karena badan merokok.”
Badan    :”Ohh maaf,  aku  tidak bisa menahan kebutuhanku untuk merokok.”
Jiwa :“Cobalah untuk berhenti, aku menjadi susah untuk bekerja maksimal, fungsiku menjadi terganggu.”
Badan    : “ Tapi tanpa rokok aku tidak bisa, zat –zat dari benda itu yang membuatku  ingin terus mengisapnya.”
Jiwa      : ”Tolongg hentikann… karena badan, jiwa bisa hancur, jiwa semakin sulit untuk  berkonsentrasi, berpikir dan tidak bebas.”
Badan    :” Baiklah karena hubungan kita dekat, Badan akan mengurangi jumlah rokok yang dihisap.”
Jiwa      : “Terima kasih Badan. Jiwa berharap Badan bisa berjuang melawan rokok itu.”
Badan    :” Iyaa Jiwa, Badan akan berjuang melawannya demi kebaikan Jiwa.”
Jiwa      :” Jiwa akan memperingatkan bila Badan melakukannya lagi. Badan pasti bisaaa….”
Badan    :”Hahaha… terimakasih Jiwa, kita harus terus saling memperingatkan dan memperhatikan yaa..”
Jiwa       :”Tentu saja, Badan. Sekarang, Jiwa dapat berfungsi dengan baik dan maksimal.”





Badan dan Jiwa adalah satu kesatuan yang membentuk pribadi manusia dan membentuk keutuhan dari pribadi manusia.

Dua aliran pandangan:

1.) Monisme
Aliran yang menolak bahwa badan dan jiwa merupakan dua unsur yang terpisah. Badan dan jiwa adalah satu substansi. Keduanya satu kesatuan yang membentuk pribadi manusia

Tiga bentuk aliran monisme:
  • Materialisme: Menetapkan materi sebagai dasar bagi segala hal yang ada (fisikalisme). Jiwa bersumber dari materi.
  • Teori Identitas: Menekankan hal berbeda dari materialisme, tapi mengikuti aktivitas mental manusia. Ini menjadi ciri khas manusia. Badan dan jiwa merupakan dua elemen yang sama.
  • Idealisme: Ada hal yang tidak dapat diterangkan semata mata berdasarkan materi, seperti pengalaman, nilai dan makna. Rene Descartes (Peletak dasar dari idealisme)

2.) Dualisme
Badan dan jiwa adalah dua hal yang berbeda dan terpisah. Perbedaannya dalam pengertian dan objek.

Empat cabang dualisme:

  • Interaksionisme: Fokus pada hun]bungan timbal balik antara badan dan jiwa
  • Okkasionalisme: Memasukkan dimensi ilahi dalam membicarakan hubungan badan dan jiwa.
  • Paralelisme: Sistem kejadian ragawi terdapat di alam, sedangkan sistem kejadian kejiwaan ada pada jiwa manusia.
  • Epifenomenalisme: Melihat hubungan jiwa dan badan dari fungsi syaraf. Satu-satunya unsur untuk menyelidiki proses kejiwaan adalah syaraf.

 

Badan Manusia: Elemen mendasar dalam membentuk pribadi manusia. Kumpulan berbagai entitas material yang membentuk makhluk. Membicarakan tubuh adalah membicarakan diri.
(Gabriel Marcel)






Jiwa manusia: Tanpa jiwa, badan manusia tidak memilik apa-apa. Jiwa harus dipahami sebagai kompleksitas kegiatan mental manusia.

Kesimpulan dari materi ini adalah, badan dan jiwa merupakan satu kesatuan yang membentuk eksistensi manusia. Oleh karena itu, untuk memperoleh badan yang sehat, mulailah dari dalam jiwa kita.

Sumber : Diambil dari slide powerpoint bahan kuliah oleh Dr. Raja Oloan Tumanggor 25 September 2014

Kebebasan: Bebas Memilih Jurusan

     Jadi, beberapa hari yang lalu penulis baru saja mempelajari tentang filsafat manusia dan membahas tentang kebebasan yang dimiliki setiap manusia. Setelah selesai penyampaian materi, dosen(Pak Bonar) meminta kita untuk menuliskan pandangan kita mengenai kebebasan. Nah, pada kesempatan ini penulis ingin membicarakan suatu hal mengenai kebebasan yang pastinya sangat ingin dimiliki oleh kita para mahasiswa yaitu kebebasan dalam memilih jurusan.

     Ketika kita lulus SMA, salah sat hal yang paling kita tunggu adalah masuk ke perguruan tinggi. Ketika kita memutuskan untuk masuk ke perguruan tinggi tentu saja kita berharap untuk dapat mempelajari suatu ilmu yang memang kita gemari dan ingin kita geluti. Namun, terkadang ada beberapa orang yang tidak dapat menentukan jurusan yang ingin ia geluti karena tidak mendapat izin dari orang tua. 

Wednesday, September 24, 2014

FANTASTIC FOUR

Halo.. Dari kemarin penulis kan udah posting soal filsafat.. Di postingan ini, penulis mau kenalin dulu nih kelompok ke kalian para pembaca.. Tadaaa!!!
 

Nahhh ini dia kelompok penulis blog ini.. Nama kelompok kita itu FANTASTIC FOUR, karena kita dari kelompok 4.
Kenalin dulu yaa, dari yang sebelah kiri.. Ada Sunu Prasetyo, Rosally Elvira, Claudya Ornella, Cresensia Audrey, NoviaHalim(penulis), Fabyolla Mol, Cardinsa Gemelli, dan Khenly Samuel :D

Salam kenal ya semua.. ;)) Tunggu postingan selanjutnya yaa.. see youu :)

My Fifth Class about Philosophy (II)

FILSAFAT MANUSIA

“ Philosophy is for those who are willing to be disturbed with a creative disturbance……Philosophy is for those who still have the capacity to WONDER….”
( Philosophy an introduction to the Art of Wondering by James L. Christian, prelude. )

Filsafat manusia menanyakan pertanyaan krusial tentang dirinya sendiri dan secara bertahap memberi jawaban bagi diri sendiri. Memikirkan tentang asal-usul kehidupan manusia (origin of human life), hakikat hidup manusia (the nature of human life), dan realitas eksistensi manusia.
Manusia adalah makhluk yang mampu dan wajib (sampai tingkat tertentu) menyelidiki arti yang dalam dari “yang ada”. Kita sebagai manusia bertanggung jawab pada diri kita sendiri.

Mempelajari filsafat manusia adalah hal yang relevan. Kenapa? Karena manusia itu dinamis, misteri dan paradoksal. Dengan bertanya manusia mewujudkan hakikat kemanusiaannya dan membuat manusia kebih mampu memahami diri sendiri.

Sebagai bagian dari filsafat, cara kerja filsafat manusia juga sama dengan filsafat pada umumnya. Yaitu: refleksi, analisa transendental dan sintesa. Juga: ekstensif, intensif dan kritis.

Berikut adalah hal-hal yang dibahas dalam filsafat manusia:
  1. Mencari kekhasan manusia
  2. Manusia sebagai “ada-di-dunia”
  3. Evolusi
  4. Antarsubyektivitas (sosialitas manusia)
  5. Manusia sebagai eksistensi bertubuh
  6. Transendensi
  7. Manusia sebagai roh
  8. Pengetahuan manusia
  9. Kebebasan
  10. Kesejarahan/historisitas
  11. Kebudayaan, sains dan teknologi
  12. Dimensi antropologis dari pekerjaan
  13. Manusia sebagai pribadi/persona
  14. Kematian dan harapan

Sumber: Diambil dari slide powerpoint bahan kuliah tanggal 22 September 2014 

Tuesday, September 23, 2014

My Fifth Class About Philosophy (I)

ETIKA DAN MORAL

Pengertian Etika :
ETIKA berasal dari bahasa Yunani yaitu “ETHOS” yang memiliki arti kebiasaan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan adanya suatu nuansa dalam konsep dan pengertian moral dan etika

Moral/Moralitas biasanya dikaitkan dengan system nilai tentang bagaimana kita harus hidup secara baik sebagai manusia.

Sistem nilai ini terkandung dalam ajaran berbentuk: Petuah-petuah, nasihat, wejangan, peraturan, perintah dan semacamnya yang diwariskan secara turun-temurun melalui agama atau kebudayaan tertentu tentang bagaimana manusia harus hidup secara baik agar ia benar-benar menjadi manusia yang baik.

Berbeda dengan moralitas, etika perlu dipahami sebagai sebuah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya.

Nilai adalah sesuatu yang berguna bagi seseorang atau kelompok orang dan karena itu orang atau kelompok itu selalu berusaha untuk mencapainya karena pencapaiannya sangat memberi makna kepada diri serta seluruh hidupnya. Norma adalah aturan atau kaidah dan perilaku dan tindakan manusia.

Sebagai cabang filsafat, Etika sangat menekankan pendekatan yang kritis dalam melihat dan menggumuli nilai dan norma moral tersebut serta permasalahan-permasalahan yang timbul dalam kaitan dengan nilai dan norma-norma itu.

Etika adalah sebuah refleksi kritis dan rasional mengenai nilai dan norma moral yang menentukan dan terwujudnya dalam sikap dan pola perilaku hidup manusia, baik secara pribadi maupun sebagai kelompok.

Etika adalah perwujudan dan pengejawantahan secara kritis dan rasional ajaran moral yang siap pakai itu.Keduanya mempunyai fungsi yang sama, yaitu memberi kita orientasi bagaimana dan kemana kita harus melangkah dalam hidup  ini.

Etika adalah sikap kritis setiap pribadi dan kelompok masyarakat dalam merealisasikan moralitas itu. Karena Etika adalah refleksi kritis terhadap moralitas, maka etika tidak bermaksud untuk membuat orang bertindak sesuai dengan moralitas begitu saja.

Etika memang pada akhirnya menghimbau orang untuk bertindak sesuai dengan moralitas, tetapi bukan karena tindakan itu diperintahkan oleh moralitas (nenek moyang, orang tua, guru), melainkan karena ia sendiri tahu bahwa hal itu memang baik baginya. Sadar secara kritis dan rasional bahwa ia memang sudah sepantasnya bertindak seperti itu.Etika berusaha menggugah kesadaran manusia untuk bertindak secara otonom dan bukan heteronom.Etika bermaksud membantu manusia untuk bertindak secara bebas dan dapat dipertanggungjawabkan karena setiap tindakannya selalu lahir dari keputusan pribadi yang bebas dengan selalu bersedia untuk mempertanggungjawabkan tindakannya itu karena memang ada alasan-alasan dan pertimbangan-pertimbangan yang kuat mengapa ia bertindak begitu atau begini.

Dua Macam Etika yang Berkaitan Dengan Nilai dan Norma

Etika Deskriptif; Berusaha meneropong secara kritis dan rasional sikap dan pola prilaku manusia dan apa yang dikejar oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. Etika Deskriptif berbicara mengenai fakta apa adanya, yaitu mengenai nilai dan pola perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan situasi dan realitas konkrit yang membudaya.

ARTI MORAL

Moral adalah Norma (biasanya dirumuskan dalam bentuk perintah  dan larangan ) untuk menata sikap batin dan perilaku lahiriah.

Moral dibagi menjadi dua :
  • Moral filosofis didasarkan pada penalaran akal budi dan pengamatan. Mis: moral pancasila.
  • Moral teologis didasarkan pada wahyu atau kitab suci yang ditafsirkan oleh otoritas intansi agama yang bersangkutan.
 TUJUAN BELAJAR ETIKA

Untuk menyamakan persepsi tentang penilaian perbuatan baik dan perbuatan buruk bagi setiap manusia dalam ruang dan waktu tertentu

Sebagai ilmu, etika bersifat kritis dan metodis.

Berdasar Kajian Ilmu


  • Etika Normatif: mempelajari secara kritis dan metodis norma-norma yang ada, untuk dapat norma dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka sebagai ilmu, etika bersifat kritis dan metodis.
  • Etika Fenomenologis: mempelajari secara kritis dan metodis gejala-gejala moral seperti suara hati kesadaran moral, kebebasan, tanggung jawab, norma-norma, dsb. 
  • Etika Deskriptif; Berusaha meneropong secara kritis dan rasional sikap dan pola prilaku manusia dan apa yang dikejar oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai.  
 BERDASAR JENISNYA ETIKA:

Etika Deskriptif berbicara mengenai fakta apa adanya, yaitu mengenai nilai dan pola perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan situasi dan realitas konkrit yang membudaya. Ia berbicara mengenai kenyataan penghayatan nilai, tanpa menilai, dalam suatu masyarakat, tentang sikap orang dalam menghadapi hidup ini, dan tentang kondisi-kondisi yang memungkinkan manusia bertindak secara etis.

ETIKA UMUM, berbicara mengenai kondisi-kondisi dasar, teori-teori etika dan prinsip-prinsip moral dasar yang menjadi pegangan bagi manusia dalam bertindak serta tolak ukur dalam menilai baik atau buruknya suatu tindakan.

ETIKA KHUSUS, merupakan penerapan prinsip-prinsip moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus.

PROFESI


  • Pekerjaan yg mengandalkan ketrampilan dan keahlian khusus.
  • Pekerjaan yg dilakukan sebagai sumber utama nafkah hidup dg keterlibatan pribadi yg mendalam dalam menekuninya.
  • Pekerjaan yg menuntut pengembangan untuk terus menerus memperbaharui pengetahuan dan ketrampilan sesuai perkembangn teknologi.
ETIKA PROFESI

Etika Profesi adalah : Etika sosial yg menyangkut hubungan antar manusia dalam satu lingkup profesi dan masyarakat pengguna profesi tersebut.  

CIRI-CIRI ETIKA PROFESI
  • Adanya pengetahuan khusus, Biasanya keahlian dan keterampilan ini dimiliki berkat pendidikan, pelatihan dan pengalaman yang bertahun-tahun.
  • Adanya kaidah dan standar moral yang sangat tinggi. Hal ini biasanya setiap pelaku profesi mendasarkan kegiatannya pada kode etik profesi.
  • Mengabdi pada kepentingan masyarakat, artinya setiap pelaksana profesi harus meletakkan kepentingan pribadi di bawah kepentingan masyarakat.
  • Ada izin khusus untuk menjalankan suatu profesi.
PRINSIP-PRINSIP ETIKA PROFESI
  • Tanggung Jawab
  • Keadilan
  • Otonomi 
KODE ETIK

Kode etik yaitu norma atau azas yang diterima oleh suatu kelompok tertentu sebagai landasan tingkah laku sehari-hari di masyarakat maupun di tempat kerja. 

TUJUAN KODE ETIK

1. Untuk menjunjung tinggi martabat profesi.
2. Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota.
3. Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi.
4. Untuk meningkatkan mutu profesi.
5. Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.
6. Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi.
7. Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.
8. Menentukan baku standarnya sendiri


Sumber:
Diambil dari slide powerpoint bahan kuliah tanggal 22 September 2014 

My Fourth Class about Philosophy (V)

CRITICAL THINKING

Berpikir kritis berarti merasionalisasi kehidupan manusia dan secara hati-hati mengamati/ memeriksa proses berpikir sebagai dasar untuk mengklarifikasi dan memperbaiki pemahaman kita tentang sesuatu. (Chaffee,1990)

Karakteristik berpikir kritis:
 
1.) Rasional, Reasonable, dan Reflektif
Berdasarkan alasan-alasan dan bukti; bukan atas dasar keinginan pribadi
2.) Melibatkan skepticism yang sehat dan konstruktif
Tidak menerima atau menolak ide-ide, kecuali karena mengerti hal tersebut. Menaati peraturan setelah berpikir panjang dengan mencari pemahaman, merasionalisasikannya, mengikuti yang masuk akal, dan bekerja untuk memperbaiki yang tidak masuk akal.
3.) Otonomi
Tidak mudah dimanipulasi. Berpikir dengan pikiran sendiri, dibandingkan diarahkan oleh anggota grupnya.
4.) Kreatif
Menciptakan ide-ide orisinal dengan cara menghubungkan pemikiran-pemikiran dan konsep.
5.) Adil
Tidak bias atau berpihak
6.) Dapat dipercaya dan dilakukan

Pemikir kritis di psikologi akan mempraktekkan keterampilan kognitif dalam:
  • Analisa
  • Aplikasi Standar
  • Diskriminasi 
  • Pencarian Informasi
  • Pembuatan Alasan Logis
  • Prediksi
  • Transformasi Pengetahuan
5 Model Berpikir Kritis
1.) Total Recall
Mengingat fakta/suatu kejadian serta mengingat dimana dan bagaimana menemukannya ketika dibutuhkan.
2.) Habits
Pendekatan berpikir yang diulang-ulang dengan sering. Sesuatu yang "dilakukan tanpa berpikir". Membuat seseorang melakukan sesuatu tanpa harus mencari metode baru.
3.) Inquiry
Memeriksa isu-isu secara mendalam dengan menanyakan hal-hal yang terlihat nyata; termasuk menggali dan menanyakan segala sesuatu, khususnya asumsi seseorang terhadap sesuatu.
4.) New Ideas and Creativity
Model inin membuat seseorang berpikir melebihi buku sumber. Mencoba menjadi seseorang yang berbeda diantara sekumpulan orang yang ada.
5.) Knowing How You Think
Berpikir tentang bagaimana seseorang berpikir.

Sumber: Diambil dari slide powerpoint bahan kuliah tanggal 19 September 2014

My Fourth Class about Philosophy (IV)

SUBYEKTIVISME dan OBYEKTIVISME

Subyektivisme

Pengetahuan dipahami sebagai keyakinan yang dianut oleh individu.

Ciri-ciri pendekatan subyektivisme:
  • Menggagas pengetahuan sebagai suatu keadaan mental yang khusus
  • Pengalaman subyektif sebagai titik tolak pengetahuan dari data inderawi diri sendiri
  • Prinsip subyektif tentang alasan cukup, karena pengalaman bersifat personal, benar secara pasti dan meyakinkan.
 


Ketika Rene Descartes berbicara mengenai berpikir, ia tidak bermaksud secara eksklusif pada penalaran saja, tetapi melihat, mendengar, merasa, senang atau sakit, kehendak (seluruh kegiatan sadar) masuk dalam kegiatan "berpikir".




  1. Realisme Epistemologis: Berpendapat bahwa kesadaran menghubungkan saya dengan "apa yang lain" dari diri saya.
  2. Idealisme Epistemologis: Berpendapat bahwa setiap tindakan mengetahui berakhir di dalam suatu ide, yang merupakan suatu peristiwa subyektif murni.
Pengetahuan tentang "yang bukan aku" merupakan pengetahuan tidak langsung.
Menurut Descartes, rasio atau pikiran adalah satu-satunya sumber dan jaminan kebenaran pengetahuan. Ia meragukan pengalaman inderawi dalam menjamin kebenaran pengetahuan, termasuk pengetahuan tentang dunia luar kita.
Apabila paham subyektivisme hanya mau dikatakan tentang pentingnya peran subyek atau sisi subyektivitas pengetahuan, maka paham ini masih dapat diterima.

Obyektivisme

Merupakan pandangan yang menekankan bahwa butir-butir pengetahuan manusia-dari soal yang sederhana hingga teori yang kompleks.
Obyektivisme berpandangan bahwa obyek yang kita persepsikan melalui perantara indera kita itu ada dan bebas dari kesadaran manusia.

Ada 3 pandangan dasar Obyektivisme:
  1. Kebenaran itu independen terlepas dari pandang subyektif
  2. Kebenaran itu datang dari bukti faktual
  3. Kebenaran hanya bisa didasari dari pengalaman inderawi.
Keyakinan tidaklah selalu obyektif dalam hubungannya dengan kesadaran pertimbangan, tetapi obyek-obyek konseptual benar-benar bersifat obyektif.


 Sumber:
Diambil dari slide powerpoint bahan kuliah tanggal 19 September 2014

Monday, September 22, 2014

My Fourth Class about Philosophy (III)

LOGIKA

Logika = cabang filsafat yg mempelajari, menyusun, dan membahas asas2/aturan formal serta kriteria yg sahih bagi penalaran dan penyimpulan utk mencapai kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.
Logika merupakan suatu keterampilan untuk menerapkan hukum-hukum pemikiran dalam praktek.

Obyek Logika

  • Objek material logika adalah manusia itu sendiri.
  • Objek formal logika ialah kegiatan akal budi untuk melakukan penalaran yang tepat yang tampak melalui ungkapan pikiran melalui bahasa. 

Macam - Macam Logika

  1. Logika kodrat: suatu suasana saat akal budi bekerja menurut hukum logika secara spontan.
  2. Logika ilmiah: berusaha mempertajam akal budi manusia agar dapat bekerja lebih teliti atau tepat, sehingga kesesatan dapat dihindari.   

Logika Formal :  Sebuah argumen dikatakan mempunyai kebenaran bentuk, bila konklusinya kita tarik secara logis dari premis atau titik pangkalnya dengan mengabaikan isi yang terkandung dalam argumentasi tersebut.
Contoh: 
-Kucing adalah hewan menyusui
-Hewan yang meyusui adalah mamalia
-Jadi, kucing adalah mamalia

Logika Material: Sebuah argumen dikatakan mempunyai kebenaran isi apabila pernyataan-pernyataan yang membentuk argumen tersebut sesuai dengan kenyataan.
Contoh:
-Andre adalah manusia
-Setiap manusi memiliki kaki
-Jadi, Andre memiliki kaki

Argumen ilmiah mementingkan struktur penalaran yang tepat atau sahih (valid) sekaligus isi atau maknanya sesuai dengan kenyataan.Dengan kata lain, kebenaran suatu argumen dari segi bentuk dan isi adalah prasyarat mutlak.


 Sumber:
Diambil dari slide powerpoint bahan kuliah tanggal 19 September 2014 
 



Never Stop Learning

Jadi setelah beberapa hari penulis mulai mengerjakan tugas blog, penulis mulai menyadari satu hal yaitu, " Jangan pernah berhenti untuk belajar"



Semakin banyak seseorang menuntut ilmu, maka semakin luas wawasan yang ia miliki. Hal ini dapat mendongkrak kepercayaan diri dari orang tersebut juga, oleh karena itu teruslah belajar, milikilah rasa ingin tahu dan haus akan pengetahuan. Selamat Malam :)

My Fourth Class about Philosophy (II)

LOGIKA DEDUKTIF

Penalaran deduktif selalu diungkapkan dalam bentuk silogisme. Dengan kata lain silogisme lah yang menjadi medium pengungkapkan penalaran deduktif.

Silogisme adalah suatu bentuk argumentasi yang bertitik tolak pada premis-premis dan dari premis-premis itu ditarik suatu kesimpulan.

Silogisme dapat dipahami sebagai suatu jenis penarikan kesimpulan yang didasarkan pada premis-premis yang sudah diketahui.

Premis-premis dari suatu argumentasi deduktif yang tepat berisi semua bukti yang dibutuhkan untuk membuktikan kebenaran suatu kesimpulan. Artinya, jika premis-premis benar, maka kesimpulan juga harus benar.

Argumentasi-argumentasi deduktif dinilai lebih berdasarkan atas sahih (valid) atau tidak sahih (invalid).

Apa yang diimaksud dengan kebenaran premis?
Premis dianggap “benar” apabila sesuai dengan realitas. Sebaliknya premis dianggap “salah” apabila tidak sesuai dengan realita.

CIRI-CIRI SILOGISME

1.Semua pernyataannya (proposisi) adalah proposisi kategoris.
2.Terdiri dari dua premis dan  sebuah kesimpulan.
3.Dua premis dan satu kesimpulans ecara bersama-sama memuat tiga term (kata) yang berbeda dan masing-masing trem tampak di dalam dua dari tiga proposisi. 


Silogisme terdiri dari ketiga term yang berbeda (term mayor, term minor dan term menengah), serta masing-masing term muncul dalam dua dari tiga proposisi.

Misalnya, term mayor “kaum intelektual” terdapat baik pada premis mayor maupun dalam kesimpulan. Term minor, yaitu “Psikolog”, terdapat di premis minor dan kesimpulan. Dan term menengah (term penghubung kedua premis) yaitu “cendekiawan” terdapat di premis mayor maupun premis minor.

My Fourth Class about Philosophy (I)


-KONFIRMASI, INFERENSI & KONSTRUKSI TEORI-

Konfirmasi
 
 Etimologi: Confirmation (Inggris)= penegasan, memperkuat. Berhubungan dg filsafat ilmu, maka fungsi ilmu pengetahuan adalah menjelaskan, menegaskan, memperkuat apa yang didapat dari kenyataan/fakta. Ada 2 aspek konfirmasi: kuantitatif dan kualitatif

1. Konfirmasi KuantitatifUntuk memastikan kebenaran, ilmu pengetahuan mengemukakan konfirmasi aspek kuantitatif.
  
 2. Konfirmasi Kualitatif
Ada kalanya  ilmu pengetahuan membutuhkan konfirmasi kualitatif untuk menunjukkan kebenaraan. Mungkin karena konfirmasi kuantitatif tdk bs dilaksanakan, maka hrs menjalankan konfirmasi kualitatif.  

Konfirmasi berupaya mencari hubungan yang normatif antara hipotesis yang sudah diambil dengan fakta-fakta.

3 Jenis Konfirmasi:

  • Decision theory: kepastian berdasarkan keputusan ‘apakah hubungan antara hipotesis dengan fakta punya manfaat aktual'
  • Estimation theory: menetapkan kepastian dengan memberi peluang benar-salah melalui konsep probabilitas. Mis. statistik. 

  • Reliability theory:  menetapkan kepastian dengan mencermati stabilitas fakta/evidensi yg berubah-berubah terhadap hipotesis. 

 Inferensi
  Inferensi dapat didefinisikan sebagai suatu proses penarikan konklusi dari satu atau lebih proposisi (keputusan).

Jenis Inferensi:

1.) Inferensi Deduktif
 Dibagi menjadi dua: 
  • Inferensi Langsung: penarikan kesimpulan (konklusi) hanya dari sebuah premis(pernyataan)
  • Inferensi Tidak Langsung:  penarikan kesimpulan (konklusi) dengan menggunakan dua premis
Hukum Inferensi
  1. Kalau premis-premis benar, maka kesimpulan benar.
  2. Kalau premis-premis salah, maka kesimpulan dapat salah, dapat kebetulan benar. 
  3. Bila kesimpulan salah, maka premis-premis juga salah. 
  4. Bila kesimpulan benar, maka premis-premisnya dapat benar, tetapi dapat juga salah. 

Konstruksi Teori

Definisi: teori=model/kerangka pikiran yg menjelaskan fenomen alami/sosial tertentu. 

Dua Kutub Arti Teori

        
  • Kutub 1: Teori sebagai hukum eksperimental.
  • Kutub 2: Teori sebagai hukum yg berkualitas normal, seperti teori relativitasnya Einstein. 
  • Teori relativitas Einstein: Relativitas khusus menunjukkan bahwa jika dua pengamat berada dalam kerangka acuan lembam (lamban atau sifat materi yg menentang atau menghambat perubahan keadaan gerak benda materi itu) dan bergerak dengan kecepatan sama relatif terhadap pengamat lain, maka kedua pengamat tersebut tidak dapat melakukan percobaan untuk menentukan apakah mereka bergerak atau diam.



Sunday, September 21, 2014

Analisa Jurnal: Makna Hidup Pada Pasangan yang Belum Memiliki Keturunan

Jurnal yang penulis analisa berjudul "Makna Hidup Pada Pasangan yang Belum Memiliki Keturunan". 

     Teori Konstruksi pada topik ini adalah makna hidup seseorang yang mengalami gangguan fungsional dalam berkeluarga. Dari sudut pandang psikologis, kehadiran anak di dalam keluarga memang bisa semakin menyemarakkan suasana, kehadaran anak dalam rumah tangga menjadi suatu hal yang berarti bagi pasangan suami istri pada umumnya.  Dengan memilik anak pasangan dapat memaknai hidup yang ditandai dengan hidup lebih berarti dan akhirnya menimbulkan rasa bahagia yang ditimbulkan pasangan setelah memiliki keturunan. 

     Latar belakang dari jurnal yang berjudul "Makna hidup pada pasangan yang belum memiliki keturunan" ialah bagaimana pasangan memahami makna hidup dengan keadaan belum memiliki keturunan. Hasrat untuk hidup secara bermakna bagi pasangan yang belum memiliki keturunan, mungkin saja menjadi salah satu faktor tidak terpenuhinya makna hidup seseorang. Kebermaknaan ketidakbermaknaan hidup dari pasangan dapat ditinjau dari kehidupan pernikahan mereka, sebab tujuan dari pernikahan sendiri, yang salah satunya adalah memiliki keturunan. Oleh karena itu kehadiran anak menjadi salah satu makna hidup dari pasangan suami istri. Budaya dan agama di Indonesia melihat kehadiran anak menjadi hal yang harus dalam kehidupan pernikahan seseorang, sedangkan pasangan yang tidak memiliki anak harus siap secara mental untuk menerima kritik dari masyarakat. 

     Dari penelitian ini, metode yang digunakan penulis jurnal adalah metode kualitatif. Data yang ada dikumpulkan dari wawancara mendalam dan observasi dari suatu keluarga. Hipotesis dari penelitian ini adalah hidup seseorang akan lebih bermakna jika dikaruniai keturunan, sebab kehadiran dari keturunan merupakan salah satu sumber pemaknaan hidup seseorang. Hasil penelitian yang dilakukan, dengan responden dua pasangan yang belum memiliki keturunan, pasangan dari kasus kedua memiliki makna hidup, sedangkan dari pasangan pertama hanya istri nya yang memiliki makna hidup. Untuk suami dari kasus pertama, tidak memiliki makna hidup yang disebabkan oleh ketidak puasan terhadap kondisi fisik. Dari penelitian ini, dihasilkan hipotesis yang tidak sesuai dengan penelitian. 

     Untuk menyimpulkan analisa jurnal ini, penulis menggunakan metode deduktif. Makna hidup pasangan hidup suami istri tidak ditentukan oleh ada tidaknya keturunan. Hal ini dikarenakan keturunan bukan satu-satunya sumber pemaknaan hidup. Komunikasi merupakan hal yang penting bagi pasangan suami istri terutama pasangan yang belum memiliki keturunan, komunikasi disini menjadi sarana berbagi dan saling melengkapi.

Sekian analisis jurnal dari penulis, mohon kritik dan sarannya. Terima Kasih :)

My Third Class about Philosophy (Epistemologi)

EPISTEMOLOGI

Epistemologi, (dari bahasa Yunani episteme (pengetahuan) dan logos (kata/pembicaraan/ilmu) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, karakter dan jenis pengetahuan.Epistemologi atau Teori Pengetahuan yang berhubungan denngan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode, diantaranya; metode induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode kontemplatis dan metode dialektis.

-Metode-Metode Untuk Memperoleh Pengetahuan-

            1.  Empirisme
Empirisme adalah suatu cara/metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. John Locke, bapak empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia di lahirkan akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa),dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi. Menurut Locke, seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama-pertama dan sederhana tersebut.
  
2. Rasionalisme 

Berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman paling-paling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide kita, dan bukannya di dalam diri barang sesuatu. Jika kebenaran mengandung makna mempunyai ide yang sesuai dengan atau menunjuk kepada kenyataan, maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi saja.

3. Fenomenalisme

Bapak Fenomenalisme adalah IImmanuel Kant. Kant membuat uraian tentang pengalaman. Barang sesuatu sebagaimana terdapat dalam dirinya sendiri merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam bentuk-bentuk pengalaman dan disusun secara sistematis dengan jalan penalaran. Karena itu kita tidak pernah mempunyai pengetahuan tentang barang sesuatu seperti keadaannya sendiri, melainkan hanya tentang sesuatu seperti yang menampak kepada kita, artinya, pengetahuan tentang gejala (Phenomenon). Bagi Kant para penganut empirisme benar bila berpendapat bahwa semua pengetahuan didasarkan pada pengalaman-meskipun benar hanya untuk sebagian. Tetapi para penganut rasionalisme juga benar, karena akal memaksakan bentuk-bentuknya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman.

Epistemologi adalah teori tentang pengetahuan / theory of knowledge (arti sederhana), adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari secara kritis tentang sumber, struktur, dan kebenaran pengetahuan, ilmu pengetahuan yg mempelajari secara kritis, normatif dan evaluatif  mengenai proses bagaimana pengetahuan itu diperoleh oleh manusia.

My Third Class about Philosophy (Kebenaran)

KEBENARAN

Di dalam kehidupan kita pasti pernah berjumpa dengan kata-kata seperti "Saya rela mati demi membela kebenaran", hal ini lah yang menunjukkan seberapa penting dan berharganya kebenaran di dalam hidup kita.
Kebenaran, adalah suatu patokan untuk menilai sifat atau kualitas dari suatu proposisi atau makna(isi) pernyataan digunakan istilah benar atau salah.
Suatu konsep tidak dapat dinilai benar atau salah, konsep hanya dapat dinilai jelas atau kabur, memadai atau tidak memadai.

Kebenaran sebagai sifat pengetahuan disebut kebenaran epistemologis. Secara umum, kebenaran biasanya dimengerti sebagai kesesuaian antara apa yang dipirkan dan dinyatakan dengan kenyataan yang sesungguhnya.
Kata Yunani untuk kebenaran adalah alètheia.


 
Pengertian Plato tentang kebenaran secara etimologi bahwa alètheia berarti “ketaktersembunyiaan adanya” atau “ketersingkapan adanya
Menurut Plato bahwa selama kita terikat pada “yang ada” dan tidak masuk pada “adanya dari yang ada”, kita belum berjumpa dengan kebenaran, karena “adanya” itu masih tersembunyi.Kebenaran dalam konsep Plato dimengerti sebagai terletak pada obyek yang diketahui, atau pada apa yang dikejar untuk diketahui. Kebenaran sebagai ketidaktersembunyiaan adanya itu tidak dapat dicapai manusia selama hidupnya di dunia ini.






Aristoteles dalam memahami kebenaran lebih memusatkan perhatian pada kualitas pernyataan yang dibuat oleh  subyek penahu ketika dirinya menegaskan suatu putusan entah secara afirmatif atau negatif.






Menurut kaum Positivisme Logis bahwa kebenaran dibedaakan menjadi dua, yaitu kebenaran faktual dan kebenaran nalar.Kebenaran faktual adalah kebenaran tentang ada tidaknya secara faktual di dunia nyata sebagaimana dialami manusia (yang biasanya diukur dengan dapat atau tidaknya secara inderawi). Kebenaran faktual kepastiannya tidak pernah mutlak dan tetap diterima sebagai benar sejauh belum ada alternatif pandangan lain yang menggugurkannya. Kebenaran nalar adalah kebenaran yang bersifat tautologis (pengulangan gagasan) dan tidak menambah pengetahuan baru mengenai dunia, tetapi dapat menjadi sarana yang berdaya guna untuk memperoleh pengatahuan yang benar tentang dunia ini.Kebenaran yang terdapat dalam logika dan matematika. Kebenarannya di dasarkan pada penyimpulan deduktif.



Menurut Thomas Aquinas, kebenaran dibedakan menjadi dua, yaitu kebenaran Ontologis (Veritas Ontologica) dan kebenaran Logis (Veritas Logica)







My Second Class about Philosophy (Metafisika)

METAFISIKA

-Pembagian Filsafat-

Tahap awal: Filsafat mencakup seluruh ilmu pengetahuan, lalu makin rasional dan sistematis. 
Kemudian, pengetahuan manusia makin luas dan bertambah banyak, tetapi makin khusus. 
Akhirnya disiplin ilmu pun memisahkan diri dari filsafat.

-Pembagian Cabang Filsafat Secara Umum-
  • Epistemologi: Filsafat ilmu pengetahuan
  • Metafisika: Ontologi, Kosmologi, Teologi, Metafisik, Antropologi.
  • Logika: Ilmu berpikir kritis
  • Etika: Filsafat tingkah laku
  • Estetika: Filsafat keindahan
  • Aksiologi: Filsafat nilai

Thursday, September 18, 2014

My Second Class about Philosophy (Aksiologi)

AKSIOLOGI

Aksiologi berasal dari kata dalam bahasa Yunani yaitu axios dan logos. Axios berarti nilai dan logos berarti ilmu. Aksiologi merupakan cabang filsafat yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya.

Surisumantri : Aksiologi merupakan teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh.

Aksiologi merupakan kajian tentang kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia, tentang nilai-nilai, khususnya etika. Aksiologi memberikan jawaban untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan. Nilai yang dimaksud dalam aksiologi adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang hal yang dinilai.

-Fakta dan Nilai-

Aksiolog membedakan ' yang ada ' dengan nilai, membedakan fakta dan nilai.
-Fakta: Sesuatu yang ada secara nyata, berlangsung begitu saja.
-Nilai: Sebagai sesuatu yang berlaku, yang memikat/mengimbau kita.

Nilai berperan dalam suasana apresiasi, sementara fakta ditemui dalam konteks deskripsi. Fakta dapat dilukiskan secara objektif. Fakta selalu mendahului nilai.
Maka ada 3 ciri-ciri nilai:
1.) Nilai yang berkaitan dengan subjek
2.) Nilai tampil dalam konteks praktis 
3.) Nilai menyangkut sifat yang ditambah oleh subjek pada sifat yang dimiliki oleh objek

Macam-macam nilai :
1.) Nilai ekonomis
2.) Nilai estetis  

Tuesday, September 16, 2014

My First Class about Philosophy

KELAHIRAN FILSAFAT YUNANI

Menurut tradisi, kata philosophia ' pecinta kebijaksanaan ' pertama kali digunakan oleh Phytagoras. Terdapat 3 faktor yang mempengaruhi lahirnya filsafat.

1.) Keberadaan mitologi : melalui mitos manusia mencari keterangan tentang asal usul alam semesta dan kejadian dunia 

2.) Kesusastraan Yunani berupa amsal, teka-teki, dongeng digunakan sebagai buku pendidikan rakyat. Rakyat gemar puisi yang punya nilai edukatif.

3.) Pengaruh ilmu pengetahuan dari Timur Kuno seperti Mesir dan Babilonia dalam astronomi, geometri.

-Peranan ' LOGOS ' Dalam Kelahiran Filsafat-

Mitologi Yunani berusaha menjawab persoalan alam semesta. Sejak abad 6 SM orang mulai mencari jawaban rasional tentang alam semesta. Kelahiran filsafat merupakan pergumulan panjang antara mythos dan logos. Filsafat lahir saat logos mengalahkan mythos. Berangsur-angsur ilmu pengetahuan melepaskan diri dari filsafat, agar memperoleh otonomi.





About Me

Hello, my name is Novia Halim. A Psychology Major student. NIM: 705140073
This blog will be my post about the lesson I've learned in Philosophy class. Stay tuned !