LOGIKA DEDUKTIF
Penalaran deduktif selalu diungkapkan dalam bentuk silogisme. Dengan kata lain silogisme lah yang menjadi medium pengungkapkan penalaran deduktif.
Silogisme adalah suatu bentuk argumentasi yang bertitik tolak pada premis-premis dan dari premis-premis itu ditarik suatu kesimpulan.
Silogisme dapat dipahami sebagai suatu jenis penarikan kesimpulan yang didasarkan pada premis-premis yang sudah diketahui.
Premis-premis dari suatu argumentasi deduktif yang tepat berisi semua bukti yang dibutuhkan untuk membuktikan kebenaran suatu kesimpulan. Artinya, jika premis-premis benar, maka kesimpulan juga harus benar.
Argumentasi-argumentasi deduktif dinilai lebih berdasarkan atas sahih (valid) atau tidak sahih (invalid).
Apa yang diimaksud dengan kebenaran premis?
Premis dianggap “benar” apabila sesuai dengan realitas. Sebaliknya premis dianggap “salah” apabila tidak sesuai dengan realita.
CIRI-CIRI SILOGISME
1.Semua pernyataannya (proposisi) adalah proposisi kategoris.
2.Terdiri dari dua premis dan sebuah kesimpulan.
3.Dua premis dan satu kesimpulans ecara bersama-sama memuat tiga term (kata) yang berbeda dan masing-masing trem tampak di dalam dua dari tiga proposisi.
Silogisme terdiri dari ketiga term yang berbeda (term mayor, term minor dan term menengah), serta masing-masing term muncul dalam dua dari tiga proposisi.
Misalnya, term mayor “kaum intelektual” terdapat baik pada premis mayor maupun dalam kesimpulan. Term minor, yaitu “Psikolog”, terdapat di premis minor dan kesimpulan. Dan term menengah (term penghubung kedua premis) yaitu “cendekiawan” terdapat di premis mayor maupun premis minor.
LOGIKA INDUKTIF
Penalaran induksi adalah cara kerja ilmu pengetahuan yang bertolak dari sejumlah proposisi tunggal atau partikular tertentu untuk menarik kesimpulan yang umum tertentu.
Di satu pihak penalaran induksi memiliki persamaan dengan deduksi, yaitu kedua-duanya mendasari argumentasi-argumentasinya dari premis-premis yang mendukung kesimpulan.
Perbedaan mendasarnya, argumentasi dalam penalaran induksi yang tepat akan mempunyai premis-premis yang benar, namun kesimpulannya dapat salah.
Hal ini disebabkan oleh argumentasi-argumentasi dalam penalaran induksi yang tidak membuktikan bahwa kesimpulan itu benar.
CIRI PENALARAN INDUKSI
1.Premis-premis dalam penalaran induksi merupakan proposisi empiris yang berhubungan langsung dengan observasi indera. Indera menangkap dan akal menerima.
2. Kesimpulan dalam penalaran induksi lebih luas dari pada apa yang dinyatakan di dalam premis-premisnya. Karena itu, pikiran tidak terikat untuk menerima kebenaran kesimpulannya. Jadi menurut kaidah-kaidah logika penalaran ini tidak sahih.
3. Meskipun kesimpulan induksi itu tidak mengikat, akan tetapi manusia yang normal akan menerimanya, kesuali apabila ada alasan untuk menolaknya. Jadi dapat dikatakan bahwa kesimpulan induksi itu memiliki kredibilitas rasional yang disebut probabilitas.
Ada beberapa syarat generalisasi yang harus diperhatikan :
1. Generalisasi tidak terbatas secara numerik.
2. Generalisasi tidak terbatas secara "spasio-temporal"
3. Generalisasi harus bisa di jadikan dasar pengandaian
ANALOGI INDUKTIF
Berbicara mengenai analogi adalah berbicara mengenai dua hal yang berlainan dan dua hal yang berlainan tersebut dibandingkan.
Dalam melakukan pembandingan ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu Persamaan dan Perbedaan.
Apabila kita membandingkan dua orang hanya melihat dari aspek persamaannya tanpa melihat perbedaan, maka timbullah analogi, yaitu persamaan di antara dua hal yang berbeda.
Yang terpenting dalam analogi induktif adalah apakah persamaan yang dipakai sebagai dasar kesimpulan sungguh-sungguh merupakan ciri-ciri esensial yang berhubungan erat dengan kesimpulan yang dikemukakan.
Analogi dalam penalaran adalah analogi induktif artinya suatu proses penalaran untk menarik kesimpulan tentang kebenaran suatu gejala khusus berdasarkan kebenaran gejala khusus lainnya yang memiliki sifat-sifat esensial yang sama.
Prinsip dasar penalaran analogi induktif adalah “Karena hal d analog dengan a, b, c, maka apa yang berlakuu bagi a, b, dan c dapat diharapkan berlaku juga untuk d.”
Analogi induktif tidak hanya menunjukkan persamaan di antara dua hal yang berbeda, tetapi juga menarik kesimpulan atas dasar persamaan.
Berbeda dengan generalisasi induktif, di mana kesimpulannya selalu berupa proposisi universal, kesimpulan analogi induktif tidak selalu berupa proposisi universal, melainkan tergantung dari subyek-subyek yang dibandingkan.
Subyek-subyek itu yang dapat bersifat individual, partikular maupun universal. Akan tetapi sebagai penalaran induktif, konklusinya lebih luas dari premis-premis.
FAKTOR PROBABILITAS
Probabilitas adalah keadaan pengetahuan antara kepastian dan kemungkinan.
Tinggi rendahnya probabilitas kesimpulan induktif dipengaruhi beberapa faktor, di antara faktor fakta,faktor analogi, faktor disanalogi dan faktor luas konklusi.
KESESATAN GENERALISASI / ANALOGI
Ada beberapa faktor yang menyebabkan kesesatan dalam penalaran induktif, yaitu:
1.Faktor Tergesa-gesa
2.Faktor ceroboh
3.Faktor prasangka
HUBUNGAN SEBAB AKIBAT
Bentuk penalaran induksi yang ketiga adalah hubungan sebab akibat.
Hubungan sebab akibat seringkali dikaitkan bahwa keadaan yang terjadi disebabkan oleh keadaan atau kejadian lainnya. Kejadian yang lainnya disebut sebab dan yang terjadi sebagai akibat.
Hubungan sebab akibat antara peristiwa-peristiwa dapat terjadi dalam tiga pola, yaitu:
1. Pola dari sebab ke akibat
2. Pola dari akibat ke sebab
3. Pola dari akibat ke akibat.
LOGIKA INDUKTIF-DEDUKTIF
Logika/Penalaran induktif = cara kerja ilmu pengetahuan yg bertolak dari sejumlah proposisi tunggal/partikular tertentu untuk menarik kesimpulan umum tertentu.
Kesimpulan itu = generalisasi fakta yang memperlihatkan kesamaan.
Namun kesimpulan umum harus dianggap sbg bersifat sementara. Karena ciri dasar induktif selalu tidak lengkap.
Persamaan penalaran induktif dengan deduktif = argumentasi keduanya terdiri dari premis2 yang mendukung kesimpulan.
Perbedaan: penalaran induksi yang tepat akan punya premis2 benar tapi kesimpulan salah, karena argumentasi penalaran induktif tidak membuktikan kesimpulan benar. Premis hanya menetapkan kesimpulan berisi suatu kemungkinan.
Proses induksi mulai berdasar kejadian2, gejala partikular. Penal induksi = proses penalaran berdasarkan pengertian partikular/premis utk hasilkan pengertian umum/kesimpulan.
Tiga ciri penalaran induktif:
1) Premis penal induktif =proposisi empiris yang ditangkap indera,
2) Kesimpulan dalam penalaran induksi lebih luas daripada apa yang dinyatakan dalam premis.
3) Meski kesimpulan tak mengikat, tapi manusia menerimanya. Jadi konklusi induksi punya kredibilitas rasional=probabilitas.
GENERALISASI INDUKTIF
Arti: Proses penalaran berdasarkan pengamatan atas gejala dengan sifat tertentu untuk menarik kesimpulan tentang semua.
Prinsip: Apa yang terjadi beberapa kali dalam kondisi tertentu dapat diharapkan akan selalu terjadi bila kondisi yangg sama terpenuhi.
Tiga syarat membuat generalisasi:
1) Tdk terbatas secara numerik, tidak boleh terikat pada jumlah tertentu,
2) Tdk terbatas secara spasio temporal, harus berlaku dimana saja.
3) Dapat dijadikan dasar pengandaian.
ANALOGI INDUKTIF
Analogi = bicara ttg dua hal yg berbeda dan dibandingkan.
Dua hal perlu diperhatikan: persamaan dan perbedaan.
Bila memperhatikan persamaan saja, maka timbul analogi.
Maka analogi induktif – proses penalaran utk menarik kesimpulaan tentang kebenaran suatu gejala khusus berdasarkan kebenaran gejala khusus yang lain yang punya sifat esensial yang sama.
Kesimpulan analogi induktif tdk bersifat universal tapi khusus.
DEDUKTIF
Desuksi sebaliknya juga merupakan suatu proses tertentu dalam proses itu akal budi kita menyimpulkan pengetahuan yang lebih ‘khusus’ dari pengetahuan yang lebih ‘ umum’. yang lebih khusus itu sudah termuat secara implisit dalam pengetahuaan yang lebih umum.
Induksi dan deduksi selalu berdampingan, keduanya selalu bersama-sama dan saling memuat. Induksi tidak dapat ada tanpa deduksi. Deduksi selalu di jiwai oleh induksi . dalam proses memperoleh ilmu pengetahuan , induksi biasanya mendahuli deduksi . sedangkan dalam logika biasanya deduksi yang terutama di bicarakan lebih dahulu. Deduksi di pandang lebih penting untuk latihan dan perkembangan pikiran.
KESESATAN GENERALISASI/ANALOGI
Tinggi rendahnya probabilitas penalaran ditentukan faktor subjektif. Faktor ini membawa manusia pada kesesatan (fallacy). Kesesatan penalaran induktif yang terpenting adalah:
• Tergesa-gesa: cepat menarik kesimpulan dari beberapa fakta.
• Faktor ceroboh: cepat tarik kesimpulan tanpa memperhatikan soal kondisi lingkungan, misalnya. Semua wanita Jawa itu lembut.
• Prasangka: memberi penilaian tanpa melihat fakta lain yang tidak cocok, misalnya. Semua org Batak bicara keras dan tak sabaran.
• Utk menghindarinya: membangun sikap kritis, terbuka pada koreksi dan kritik dari orang lain.
MANFAAT BELAJAR PENALARAN INDUKSI
B. Russel: logika induktif bukan hanya lebih bermanfaat dari logika deduktif, tapi juga lebih sulit.
Manfaat logika induktif: MEMBERIKAN PEMBENARAN ATAS KECENDERUNGAN manusia yg bersandar pd kebiasaan.
Memang tidak pernah bisa merasa pasti atas kebenaran suatu kesimpulan induktif, tapi ada cara tertentu dimana kita dapat menekan kemungkinan kesalahan.
Sumber:
Diambil dari slide powerpoint bahan kuliah tanggal 19 September 2014
novia blog kamu bagus, penjelasannya mudah dimengerti. aku kasih nilai 88 :D
ReplyDeletenoviaaa mau lagi dong updatenya ! bagusss nih isinya gampang dimengerti ! 88 deh buat noviaaaaa
ReplyDeleteLengkap dan rapi. Ditunggu postingannya yang lain ya 85 buat blog ini:D
ReplyDeletelengkap banget 88 yaa
ReplyDeleteblognya lengkap dan mudah untuk dimengerti, 93 dehhh buat noviii :)
ReplyDelete